Start From Ordinary Things…

Just what I think..feel and writing about

Dari puskesmas ke rumah sakit… August 16, 2007

Oke, setelah merujuk ke puskesmas beberapa waktu yang lalu keadaan ade qu tidak bertambah baik. Demamnya semakin tinggi dan nampaknya obat yang diberikan pihak puskesmas tidak membuatnya bertambah baik. 

Malam hari akhirnya ayah qu memutuskan untuk membawanya ke dokter keluarga, disana tes lab dan ternyata trombosit ade ku masih 150, tapi kenapa panasnya nda turun2? Takut ada apa2 akhirnya ayah qu membawa ade qu ke RS, malam itu dia masuk UGD.  Tak lama ayah qu menghubungi dan memberitahu aq untuk segera menyusul ke RS dan tak lupa membawa uang…

 Masuk UGD, sebelum melihat ade qu tiba2 aq ditarik seorang suster yang menanyakan:

S          : Keluarga Samuel ya?

A          : Ya, Suz

S          : Tolong urus administrasinya ya!

A          : Ya, sebentar saya mo liat ade saya dulu.

S         : Sekarang aja mba kalo bisa, ke loket depan (dengan posisi badan menghalangi  langkah saya)

A          : *wth* Oke! (beranjak menuju loket dan membayar biaya administrasi malam itu sebesar 151rb) 

Menemui ade, ayah dan ibuqu. Ya ampun aq kaget banget liat wajah ade qu yang gosong… hitam kemerah-merahan gitu wajahnya padahal aslinya ngga hitam. Ade dibawa menuju kamarnya kelas 3…. kelas 2nya penuh. Menuju kelas 3 dilantai 6, ketika itu sudah pukul 11 malam. Keluar lift dan menuju kamarnya…. Sepanjang koridor ku liat banyak orang tidur di koridor itu. Akhirnya kamar 607, ade qu dipindahkan ke tempat tidur. Di kamar itu hanya ada 3 orang termasuk ade qu, smntara 3 tempat tidur lagi masih kosong.

Tak lama suster datang dan memeriksa ade qu, betapa kagetnya suster tersebut begitu mengukur panas badan ade qu… 420..air raksa di termometer naik full. Ya Allah ternyata ade qu sebegitu tersiksanya pantes wajahnya jadi hitam gitu… ibu segera mengompres ade dan membuat badannya hangat (tangan dan kaki ade qu sudah dingin sekali). Malam itu juga suster memberikan resep yang harus ditebus, ayah beranjak menuju apotek RS dan menebus obatnya, 120rb untuk menebus obat… Ya ampun… Tak berapa lama setelah ayah kembali dari apotek, aq dan ibuqu pulang.

Malam itu ayah qu jaga dan besok pagi giliran qu yang jaga. Sampai di rumah pukul setengah 1 dini hari. Berusaha tidur, aq merasa tidak sehat… tenggorokan sakit dan badan meriang juga demam.

Pagi harinya ku langkahkan kaki kembali ke RS. Bertukaran jaga dengan ayahqu yang harus kembali bekerja… Lemas sekali badan qu saat itu, menyuapi ade qu… tak kurasakan selera makan… mata qu makin berat dan badan semakin meriang (aq ngga boleh sakit). Akhirnya setelah selesai menyuapi ade, qu coba untuk makan 1..2..3 suap cukup aq ngga bisa makan lagi. 

Menemani ade qu ngobrol sambil terus mengompresnya, tak lama ada 1 pasien masuk… Ya Allah… kurus sekali dan perutnya buncit sekali, tak ku liat ada tanda2 harapan hidup. Semua yang mengantarnya menangis… dan ketika itu suster hanya mengatakan untuk mengaji bagi pasien tersebut.

Dan aq… makin merasa pusing dan badan qu semakin panas sementara ibu masih 4 jam lagi baru datang ke RS. Ku suruh ade qu tidur sementara aq tertidur di samping tempat tidurnya… Bangun dan menuju kamar mandi, begitu buka pintu… ku urungkan niat qu tuk masuk…iihh jorok banget… 

Jam 11 suster datang memeriksa dan memberikan resep yang harus ditebus. Tak bawa uang, qu pending sampai nanti siang ketika ibuqu datang. Ya ampun… dua tempat tidur di depan ade qu terisi… satu penyakit jantung dan diabetes, satu lagi kena chikungya, satu lagi kena liver akut (yang ditangisi keluarganya), kiri ade qu kena liver juga dan disebelah kanan ade qu kena demam berdarah… lengkap sudah…. 

Jam setengah 2 siang ibu datang, qu serahkan resep dan qu katakan pada ibu aq juga sakit dan ingin cepat2 pulang. Memeriksa dahiku dan ibu kaget sambil berkata…”Ya ampun kok kamu juga panas banget gini badannya…Jangan sakit ya nak”.

Turun ke bawah untuk menebus resep ade qu… 252rb harga yang harus ditebus untuk resepnya… lama sekali aq nunggu dan sialnya…. aq terselang oleh beberapa orang yang datang lebih belakangan dari aq… saat itu ingin rasanya aq teriak “Woi! Saya yang dah nunggu dari tadi kok ngga dipanggil2?” untung waktu itu lagi sakit, coba klo ngga… 45 menit menunggu, akhirnya dipanggil juga.

Kembali menuju lantai 6… Bingung… kok pada rame2 ada apa…Innalilahi, ternyata pasien yang terkena liver akut itu meninggal dunia… istrinya pingsan dan menangis terus… tak terasa air mata qu menetes… Ya Allah begitu mudah kau panggil hidup seseorang dan meninggalkan duka bagi yang ditinggalkan. Orang yang meninggal itu baru menikah 4 tahun yang lalu dan meninggalkan seorang istri dan seorang anak yang berusia 2 tahun. Tiba-tiba terbayang dalam benakqu, bagaimana jika aq yang ditinggal suami secepat itu? Apa aq sanggup…

Ya Allah mudah2an kelak hal itu tidak menimpa aq… berat rasanya kehilangan seseorang yang kita cintai secepat itu… kematian begitu dekat dengan kita, itu yang ku rasakan ketika berada di RS. Apa qta sudah siap untuk kematian?…

Dalam hati aq berdoa… Ya Allah lindungi lah orang2 yang kukasihi dan cintai, berikan karunia kesehatan bagi mereka. Panjangkanlah umur ayah dan ibu qu. Amin….   

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s