Start From Ordinary Things…

Just what I think..feel and writing about

Komunitas Terbayang- Benedict Anderson January 6, 2008

Filed under: tugas2 kuliah ku dulu — itha @ 12:13 pm

         Dalam buku Komunitas-Komunitas Terbayang ini Anderson akan banyak bercerita tentang dunia politik, khusus dalam bab Pendahuluan ini, Anderson akan berbicara tentang Nasionalisme. Eric Hobsbawm mengatakan bahwa “Gerakan-gerakan dan negara-negara Marxis telah cenderung untuk menjadi nasional bukan hanya dalam bentuknya melainkan juga dalam substansinya, yaitu menjadi nasionalis”. Ke-nasional-an merupakan nilai paling absah secara universal dalam kehidupan politik. Nation atau bangsa, nasionalitas atau kebangsaan, nasionalisme atau paham kebangsaan terbukti sulit sekali dirumuskan , terlebih lagi diuraikan. Oleh sebab itu Anderson berusaha untuk melihat Nasionalitas bukan berdasarkan teori Marxisme ataupun Liberal.

Anderson melihat ke-nasional-an atau nasionalisme sebagai artefak-artefak budaya (sejajar dengan benda-benda temuan arkeologis) jenis khusus, untuk memahami pernyataan tersebut kita harus melihat bagaimana ke-nasional-an dapat muncul secara historis, dimulai pada akhir abad ke-18 naionalismemuncul sebagai hasil ‘persilangan’ berbagai kekuatan historis sehingga menjadi ‘modular’ lalu ditanamkan dengan berbagai derajat kesadaran diri dan dileburkan dengan serangkaian tata politis dan ideologis yang luas pula. Nasionalisme yang merupakan artefak-artefak budaya telah membangkitan rasa keterikatan yang begiru mendalam. Dalam proses pendefinisian nasionalisme, para teoritisi nasionalisme sendiri mengalami kebingungan disebabkan tiga hal, yaitu :

1.      Modernitas onjektif  bangsa-bangsa di mata para sejarahwan vs kepurbaan subjektifnya dimata para nasionalis.

2.      Universalitas formal kebangsaan sebagai suatu konsep sosio-kultural vs kekhususan pengejawantahan konkretnya yang tak terelakan (apa maksud dari pernyataan ini ?)

3.      Daya politis nasionalisme vs kemelaratan filosofisnya.

Seorang pengkaji nasionalisme, Tom Nairn menulis bahwa Nasionalisme adalah patologi sejarah pembangunan modern,tak bisa dielakan sama seperti neurosis dalam sesosok pribadi, lengkap dengan ‘kemenduaan’ asasi yang melekat padanya dengan kemampuan yang telah ada dari awal untuk anjlok ke kegilaan (kira-kira maksud yang jelas dari tulisan ini apa sih ? saya kesulitan untuk menterjemahkannya ke dalam nalar saya), berakar pada dilema-dilema ketidakberdayaan yang ‘disorongkan’ ke hadapan sebagian besar jagat ini dan pada umumnya tak mungkin di sembuhkan. Sementara itu Anderson mengemukakan masalah naionalisme akan lebih mudah bila orang memperlakukan nasionalime seolah-olah ia berbagi ruangan dengan kekerabatan dan agama, bukannya dengan liberalisme atau fasisme. Dengan gaya berpikir Antropologisnya Anderson mendefinisikan nasional atau bangsa sebagai komunitas politis dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara inheren sekaligus berkedaulatan. Bangsa adalah sesuatu yang terbayang karena para anggota bangsa terkecil sekali pun tidak dapat kenal dengan sebagaian besar anggota lain, namun dalam pikiran setiap orang yang menjadi anggota bangsa itu hidup sebuah bayangan tentang kebersamaan mereka.

Ernest Gellner menetapkan nasionalisme bukanlah bangkitnya kesadaran diri suatu bangsa, nasionalisme ‘membikin-bikin’ bangsa-bangsa dimana mereka tidak ada. Kalimat membikin-bikin mengisyaratkan seolah-olah komunitas-komunitas ‘sejati’ itu ada namun sifatnya jauh dari komunitas kebangsaan, namun pada realitanya, semua komunitas yang lebih besar dari dusun-dusun promordial dimana para anggotannya dapat bertatap muka langsung tiap hari merupakan komunitas terbayang. Pembedaan antar komunitas harus dilakukan bukan berdasarkan kesejatian/kepalsuannya, melainkan menurut gaya pembayangannya. Dalam gaya pembayangannya, bangsa dapat dibayangkan sebagai berikut :

1.      Bangsa dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas karena memiliki garis-garis perbatasan yang pasti meskipun sifatnya elastis.

2.      Bangsa dibayangkan sebagai sesuatuyang berdaulat, dimana konsep itu lahir dalam kurun waktu dimana Pencerahan dan Revolusi memporak-porandakan keabsahan ranah dinasti berjenjang berkat pentahbisan oleh Tuhan. ←  “Keabsahan ranah dinasti ? apa maksudnya ?

3.      Bangsa dibayangkan sebagai sebuah komunitas.

 

BAHASA-BAHASA LAMA, MODEL-MODEL BARU 

            Antara tahun 1820 hingga 1920 pada zaman nasionalisme di Eropa, watak nasionalime telah mengubah paras Dunia Lama. Ada dua tampilan mencolok yang membedakan mereka dengan leluhurnya, pertama dalam hampir seluruh nasionalisme jenis ini ‘bahasa-tulis-nasional’ punya makna penting ideologis dan politis. Kedua, semuanya bisa bekerja berdasarkan model-model yang disediakan oleh para pendahulu mereka. Saat itu bangsa menjadi sesuatu yang mampu secara sadar di idamkan semenjak awal, dan bukan merupakan bingkai visi yang perlahan-lahan menajam. Temuan dan penaklukan menyebabkan revolusi dalam dunia gagasan Eropa tentang bahasa. Sejak dulu para pedagang, pelaut, misionaris dan para serdadu Portugis, Belanda dan Spanyol telah mengumpulkan isian daftar kata dari bahasa-bahasa non Eropa, yang belakangan di tata menjadi leksikon-leksikon sederhana. Sementara itu kajian perbandingan ilmiah antar bahasa baru dilakukan pada akhir abad ke-18, kegiatan-kegiatan imtelektual para profesional penting sekali artinya dalam membentuk nasionalisme di Eropa.

            Di berbagai tempat di dunia, bahasa merupakan pemersatu dan pencetus kebersamaan nasionalisme yang sangat hebat. Di Hongaria, nasionalisme muncul karena tulisan-tulisan yang ditulis oleh para kaum intelektual, seperti karya-karya Ferenc Kazinesy- Bapak Kesusastraan Hungaria menulis tentang ekspresi politis menentang kaum ningrat Magyar yang mengetahui bahasa Latin, pada akhirnya pada dasawarsa 1980-an bahasa Latin diganti menjadi bahasa Jerman sebagai bahasa utama. Di Norwegia nasionalisme muncul bersama terbitnya buku tata bahasa Ivar Aasen (1848) dan Kamus bahasa Norwegia (1850), yang merupakan tanggapan dan perangsang bagi tuntutan akan bahasa cetak yang khas Norwegia. Di tempat lain, kita dapat menemukan nasionalisme Afrikaner yang dipelopori oleh para pastor dan sastrawan Boer yang telah menjadikan bahasa Belanda dengan logat kedaerahan setempat sebagai bahasa kesusastraan dan memberi nama baru bagi bahasa tersebut dengan tidak menggunakan nama bahasa yang keeropa-eropaan. Namun tak peduli dimana lokasinya kebangkitan nasionalisme ini harus kita pahami dalam kaitannya dengan kapitalisme cetak bahasa ibu. Di Eropa pada abad ke-19, kelas penguasa praborjuis mendapatkan ‘zat perekat’ mereka dalam arti tertentu di luar bahasa atau sedikitnya diluar bahasa cetak. Pertumbuhan umum melek-huruf, perdagangan industri, komunikasi, dan mesin yang menjalankan negara menciptakan dorongan-dorongan baru yang kuat untuk mengadakan unifikasi lingusitik vernakular atau penyatuan bahasa ibu, hal ini terjadi pada hampir seluruh belahan dunia. Nasionalisme muncul akibat adanya unifikasi dari bahasa ibu yang digunakan di tiap-tiap negara.

 

One Response to “Komunitas Terbayang- Benedict Anderson”

  1. yazier Says:

    wah numpang copy yak n masih banget udah ngebantu tugas gw


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s